Friday, April 10, 2009

Kisah Sebuah Toko Grosir

Siang tadi, saya pergi ke sebuah toko grosir alat-alat rumah tangga di daerah kota.
Tokonya lengkap... dan yang terpenting, harganya murah dibanding toko sejenis, apalagi supermarket.
Dari bahan plastik seperti barang-barang produksi Lion Star, sampai ke barang pecah belah dan alat-alat elektronik sederhana seperti hair dryer, bahkan toaster dan oven.
Kami parkir di pinggir jalan, agak jauh dari toko yang dimaksud, karena kendaraan yang parkir di sekitar situ sangat banyak.
Sampai di dalam, saya mendapati lautan manusia sedang bergerak hilir mudik kian kemari, di gang-gang dalam toko. Tentunya kebanyakan dari mereka adalah para wanita, dan terdapat pula sebagaian pria, yang mungkin sedang menemani istrinya berbelanja, seperti halnya Ayah saya menemani Ibu saya saat itu.
Suasana di dalam toko tersebut benar-benar jauh dari kata 'nyaman' yang pernah saya kenal.
Secara tangible, tidak ada satupun karyawan toko yang menggunakan seragam dan berpenampilan rapi.
Kami pun dibiarkan menunggu bermenit-menit lamanya tanpa kepastian apakah barang tersebut atau tidak dengan posisi berdiri dan kepanasan karena sirkulasi yang kurang baik di dalam toko tersebut.
Tak ada sepercik senyum pun dari bibir mereka ketika melayani kami.
Bahkan ketika saya berusaha meraih sebuah kotak plastik yang letaknya cukup jauh dari jangkauan tangan saya, tak ada satupun penerapan variabel ketanggapan dari para karyawan yang lalu lalang di dekat saya.
Ramah ? Mmm.. mungkin saya hanya akan memberi nilai 4 untuk keramahan mereka ketika melayani kami.

Tapi fenomena yang tak dapat dielakkan.. adalah dengan sederet keluh kesah yang saya lontarkan, berbanding terbalik dengan lautan manusia yang mengumpul di sana. Entah sedang melihat-lihat, sedang dilayani oleh para karyawan atau sedang mengantri di kasir yang juga tidak dapat dibilang ramah.
Dan itu semua penyebabnya adalah karena harga yang murah !
Dengan penawaran harga yang benar-benar murah itu, orang rela untuk diperlakukan 'dengan kurang baik' .. bahkan besok, lusa bahkan beberapa hari atau beberapa bulan kemudian akan tetap datang kembali dan tetap menjadi pelanggan setia toko tersebut.

Untuk kasus ini jelas terlihat, terkadang apa yang kita pelajari mengenai 'betapa pentingnya memberikan service kepada para pelanggan' dapat dipatahkan dengan mudah melalui harga yang murah.
Walaupun tidak ada satupun teori tentang kualitas pelayanan yang diterapkan oleh mereka, namun toko tersebut laris bak kacang goreng.

Namun toko seperti ini harus berhati-hati jika pada suatu hari muncul toko sejenis, di mana mereka akan bersaing masalah harga yang tidak terlalu berbeda jauh.
Jika competitornya tersebut dapat menerapkan kualitas pelayanan yang jauh lebih baik, maka mungkin saja para pelanggan akan beralih pada competitor tersebut.
Sebisa mungkin, tetap menerapkan kualitas pelayanan yang baik di samping mengutamakan kualitas produk yang kita jual, walaupun kita sedang menjadi market leader.
Karena image yang telah terbentuk di benak masyarakat akan terus melekat dan sulit untuk dihapus, bahkan ketika kita ingin mengubah image kita di mata mereka.

Thursday, April 9, 2009

Balada Mobil Rental

December 2008 yang lalu, saya memiliki kesempatan untuk ke Bali, dalam rangka seminar.
Di sana, saya bersama rekan-rekan menyewa jasa mobil rental dari seseorang bernama Pak Ali yang berperan langsung pula sebagai driver. What's so special about him ?
Beliau ini sangat mempraktekkan apa yang kita kenal dengan model SERVQUAL (Service Quality) yang diperkenalkan oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry pada buku Delivering Quality Service, yaitu Tangible, Emphaty, Assurance, Responsiveness dan Reliability.


Dari segi Reliability ( Keandalan )
Pak Ali ini selalu on time dalam menjemput dan mengantar kami dari dan ke airport dan hotel. Tidak pernah ada kata 'terlambat' yang terlintas dalam benak kami untuk dilabelkan kepada pelayanan Pak Ali selama hari-hari kami di Bali.


Dari segi Responsiveness ( Daya Tanggap )
Beliau ini selalu dengan cepat merespon setiap permintaan dari kami, para pelanggannya yang cerewet (hehehehe... )

Entah meminta untuk mengganti No. Track dari CD "Pussycat Dolls" yang kami dengarkan berulang-ulang tanpa merasa bosan... ataupun sekedar membantu kami dalam mengambil gambar dengan kamera sehingga kami berlima dapat memiliki kenang-kenangan bersama dalam satu frame picture. Plus memperkenalkan kami pada satu nama pantai yang tidak pernah terlintas dalam benak kami, yaitu Pantai Jerman.
Pantai Jerman ini terletak tidak terlalu jauh dari Kuta, dan kami ke sana karena kami ingin melihat sunset yang begitu terkenal di pantai-pantai Bali. Semula, kami ingin bersantai di Pantai Kuta. Tapi dengan menghitung waktu perjalanan kami dari Denpasar, yang diperkirakan tidak akan sampai ke Pantai Kuta pada waktunya, maka Pak Ali menyarankan kami mencoba untuk melihat pantai baru yang tidak terlalu besar. Kami pun sepakat untuk menghabiskan waktu sunset kami di sana. Tapi apa daya, ketika kami tiba di sana, pantai tersebut begitu penuh dengan para wisatawan lokal yang sedang bermain olahraga pantai. Mungkin melihat raut wajah kami yang terlihat agak kecewa, karena tidak dapat menikmati 'romantis'nya suasana pantai, maka Pak Ali memutuskan untuk membawa kami ke Pantai Kuta.
Thanks to Pak Ali yang tidak lelah-lelahnya memenuhi permintaan kami dan selalu tanggap setiap waktu dan setiap kesempatan...

Dari segi Assurance ( Jaminan )
Dari segala gerak gerik Pak Ali yang kami amati, berikut sikapnya, dapat menimbulkan rasa aman dan percaya kami sebagai pelanggan ketika berinteraksi dengan beliau.

Ramah dan selalu memamerkan senyum khasnya. Sopan dalam bertutur kata dan memiliki pengetahuan yang luas all about Bali yang notabene begitu blur bagi kami orang awam. Budaya Bali, tempat-tempat terkenal di Bali dan pelosoknya serta makanan khas Bali. Bahkan ketika kami dengan cerewetnya bertanya mengenai kata-kata dalam bahasa daerah Bali, beliau dengan sabar menjawab setiap pertanyaan kami.

Satu kata Bali yang masih saya ingat hingga sekarang adalah 'jegeg' yang berarti 'cantik'

Dari segi Emphaty ( Empati )
Beliau begitu peduli akan pelanggannya dan begitu memahami kebutuhan para wisatawan yang ada di Bali. How ?

Ada satu cerita yang saya ingat yaitu ketika hari pertama kami di Bali. Kebetulan kami menginap di sebuah hotel kecil, yang lebih tepatnya disebut bungalow kecil. Satu bungalow kecil memiliki kamar 2 buah, satu kamar mandi dan ruang tamu yang terbagi antara ruang tamu kecil dan ruang makan berikut dapur kecil.

Ketika kami turun dari mobil yang dikendarai oleh beliau, dengan logat Bali yang kental beliau berkata,"Di bawah jok mobil ada DVD player, kalau ingin menonton di hotel."

Kami semua terpengarah... DVD player ???

Terutama saya, langsung felt amazed dengan pemikiran beliau yang sangat mengerti kebutuhan pelanggan. Mungkin saja, jika kami lelah setelah berputar-putar Bali, dan kami ingin menonton DVD yang dapat kami beli dengan harga murah (penjualan DVD sangat marak di Bali).
Dari sisi Tangible ( Bukti Fisik )
Ditunjukkan dari fisik Trajet berwarna silver yang kami gunakan waktu itu... bersih dan rapi

Belum lagi dengan terpasangnya CD player sehingga memudahkan para penggunanya memanjakan telinga .. Dari penampilan Pak Ali sendiri.. yang selalu rapi dan berpakaian batik dapat menampilkan seorang sosok Bali yang benar-benar Bali !

Bayangkan kalau yang menggunakan jasa beliau adalah wisatawan mancanegara, beliau dapat menjadi icon bagus untuk bangsa Indonesia

Welcome to My New Blog

Hi, I'm Christina...

I grew up in Bandung, the capital city of West Java, Indonesia.

I'm just an ordinary girl that has some experiences which I will pour on this blog through my fingers..

Hope anyone that reads my stories can feel the happiness, sadness, wonderfulness that I felt when I experienced them..

Or.. maybe you can share yours too on the comments box...

So we can enrich our knowledge...

Please do..



warmest regards,
christina